“YA ALLAH, AKU BERLiNÐUNG KEPAÐAMU ÐARiPAÐA PERASAAN SEÐiH ÐAN ÐUKACiTA, AKU BERLINÐUNG KEPAÐAMU ÐARiPAÐA LEMAH ÐAN MALAS, AKU BERLiNÐUNG KEPAÐAMU ÐARiPAÐA BAHKiL ÐAN PENAKUT ÐAN AKU BERLiNÐUNG KEPAÐAMU ÐARiPAÐA BEBAN HUTANG ÐAN TEKANAN PERASAAN.”


“YA ALLAH, BUKAKANLAH UNTUKKU PiNTU-PiNTU KEBAiKAN, PiNTU-PiNTU KESELAMATAN, PiNTU-PiNTU KESiHATAN, PiNTU-PiNTU KENiKMATAN, PiNTU-PiNTU KEBERKATAN, PiNTU-PiNTU KEKUATAN, PiNTU-PiNTU CiNTA SEJATi, PiNTU-PiNTU KASiH SAYANG, PiNTU-PiNTU REZEKi, PiNTU-PiNTU iLMU, PiNTU-PiNTU KEAMPUNAN ÐAN PiNTU-PiNTU SYURGA, YA ALLAH YANG MAHA PENGASiH LAGi MAHA PENYAYANG.”


Jumaat, Jun 26, 2009

Ummu Sulaim Binti Malhan

Nama lengkapnya adalah Rumaisha’ Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Naja al-Anshaiyah al-Khazrajiyah.

Beliau adalah seorang wanita yang memiliki sifat keibuan dan cantik, dihiasi pula dirinya dengan ketabahan, kebijaksanaan, lurus pemikirannya, dan dihiasi pula dengan kecerdasan berpikir dan kefasihan serta berakhlak mulia, sehingga nantinya cerita yang baik ditujukan kepada beliau dan setiap lisan memuji atasnya. Karena, beliau memiliki sifat yang agung tersebut sehingga mendorong putra pamannya yang bernama malik bin Nadhar untuk segera menikahinya yang akhirnya melahirkan Anas bin Malik.

Anas adalah anak yang cerdas dan mencintai Rasulullah SAW, dia senantiasa mengikuti ke manapun Rasulullah SAW pergi. Sampai suatu ketika Ummu Sulaim menitipkan Anas kepada Rasulullah untuk dididik. Setiap kali Anas pulang ke rumah, Ummu Sulaim selalu bertanya “Anakku, apa yang kamu dapatkan dari Rasulullah hari ini?” Begitulah seterusnya sampai akhirnya, kita mengenal Anas bin Malik sebagai salah satu perawi Hadis yang terbanyak. Seperti inilah ibu yang cerdas ini mendidik anaknya, mempersiapkannya menjadi pembela Islam dan penegak kebenaran.

Tatkala cahaya nubuwwah mulai terbit dan dakwah tauhid mulai muncul, orang-orang yang berakal sehat dan memiliki fitrah yang lurus untuk bersegera masuk Islam. Ummu Sulaim termasuk golongan pertama yang masuk Islam awal-awal dari golongan Anshar. Beliau tidak mempedulikan segala kemungkinan yang akan menimpanya di dalam masyarakat jahiliyah penyembah berhala yang beliau buang tanpa ragu.

Adapun kalangan pertama yang harus beliau hadapi adalah kemarahan Malik, suaminya, yang baru saja pulang dari berpergian dan mendapati isterinya telah memeluk Islam. Malik berkata dengan kemarahan yang memuncak, “Apakah engkau murtad dari agamamu?” Maka dengan penuh yakin dan tegar beliau menjawab, “Tidak, bahkan aku telah beriman.”

Sungguh ungkapan tersebut mampu menyentuh perasaan yang paling dalam dan mengisi hati Abu Thalhah, sungguh Ummu Sulaim telah bercokol di hatinya secara sempurrna, dia bukanlah seorang wanita yang suka bermain-main dan takluk dengan rayuan-rayuan kemewahan, sesungguhnya dia adalah wanita cerdas, dan apakah dia akan mendapatkan yang lebih baik darinya untuk diperisteri, atau ibu bagi anak-anaknya?”

Abu Thalhah dikenal sebagai saudagar yang kaya dan terpandang di kaumnya, pikirannya cerdas dan berbudi pekerti luhur, tapi saat itu ia masih kafir. Dengan keyakinan hati, Abu Thalhah mendatangi Ummu Sulaim, tidak mungkin Ummu Sulaim menolak diriku, begitu yang ada difikirannya.

Ketika bertemu dengan Ummu Sulaim, Abu Thalhah langsung menyampaikan lamarannya. Namun ia terkejut ketika Ummu Sulaim menolak. “Aku akan memberikan mahar yang banyak kepadamu sehingga kehidupanmu dan putramu dapat terjamin.” Tetap saja Ummu Sulaim menolak. Tapi di hati wanita ini ada kekaguman kepada Abu Thalhah atas keluhuran budinya dan ada keyakinan dihatinya bahawa Abu Thalhah dapat bermanfaat bagi Islam. Laki-laki yang satu ini berbeda sekali dengan suaminya yang dulu.

“Demi Allah, orang seperti anda tidak pantas untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mahu memeluk Islam, maka itulah mahar bagiku dan kau tidak meminta yang selain dari itu.” (Lihat an-Nasa’i VI/144).

Ketika terlihat keraguan di muka Abu Thalhah, Ummu Sulaim berpikir, orang ini harus digugat logika dan fikirannya. Ummu Sulaim lalu bertanya, “Wahai Abu Thalhah, dari apakah berhala yang engkau sembah di rumahmu diperbuat?” Abu Thalhah menjawab, “Daripada kayu.” “Apakah engkau tidak terfikir bahawa bahagian kayu dibuat untuk berhala dan kayu yang sama dijadikan kayu bakar? Apakah sama antara tuhanmu dengan kayu bakar?” Begitulah dialog yang terjadi antara kedua orang cerdas ini.

Kalimat itulah akhirnya menetapkan hati Abu Thalhah kepada Islam. Tanpa terasa lisan Abu Thahah mengulang-ulang, “Aku berada di atas apa yang kamu yakini, aku bersaksi bahawa tidak ada ilah yang hak kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Ummu Sulaim lalu menoleh kepada putranya Anas dan beliau berkata dengan suka cita kerana hidayah Allah SWT yang diberikan kepada Abu Thalhah melalui tangannya, “Wahai Anas nikahkanlah aku dengan Abu Thalhah.” Kemudian beliau pun dinikahkan Islam sebagai mahar. Oleh kerana itu, Tsabit meriwayatkan hadis dari Anas:

“Aku belum penah mendengar seorang wanita yang paling mulia dari Ummu Sulaim kerana maharnya adalah Islam.” (Sunan Nasa’i VI/114).

Ummu Sulaim hidup bersama Abu Thahah dengan kehidupan suami isteri yang diisi dengan nilai-nilai Islam yang menaungi bagi kehidupan suami isteri, dengan kehidupan yang tenang dan penuh kebahagiaan.

Ummu Sulaim adalah profil seorang isteri yang menunaikan hak-hak suami isteri dengan sebaik-baiknya, sebagaimana juga contoh terbaik sebagai seorang ibu, seorang pendidik yang utama dan orang da’iyah.

Begitulah Abu Thalhah mulai memasuki madrasah imaniyah melalui isterinya yang utama, yakni Ummu Sulaim, sehingga, pada gilirannya beliau minum dari mata air nubuwwah hingga menjadi setara dalam hal kemuliaan dengan Ummu Sulaim.

Marilah kita dengarkan penuturan Anas bin Malik yang menceritakan kepada kita bagaimana pelakuan Abu Thalhah terhadap kitabullah dan komitmennya terhadap Al-Quran sebagai landasan dan keperibadian. Anas bin Malik berkata:
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempuna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.” (Surah Ali Imran, ayat 92)

Seketika Abu Thalhah berdiri menghadap Rasulullah SAW dan berkata, “Sesungguhnya Allah telah berfirman di dalam kitabnya (yang artinya), “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” Dan sesungguhnya harta yang paling aku sukai adalah kebunku, untuk itu aku sedekahkan ia untuk Allah dengan harapan mendapatkan kebaikan dan simpanan di sisi Allah, maka pergunakanlah sesukamu ya Rasulullah.”

“Bagus… bagus… itulah harta yang menguntungkan… itulah harta yang mnguntungkan…. Aku telah mendengar apa yang kamu katakan dan aku memutuskan agar engkau sedekahkan kepada kerabat-kerabatmu.” Maka Abu Thalhah membahagi-bahagikannya kepada anak kerabatnya dan Bani dari pakciknya.”

Allah memuliakan kedua orang suami isteri ini dengan seorang anak laki-laki sehingga keduanya sangat bergembira dan anak tersebut menjadi penyejuk pandangan bagi keduanya dengan pergaulannya dan dengan tingkah lakunya. Anak tersebut diberi nama Abu Umair. Suatu ketika anak tersebut bemain-main dengan seekor burung lalu burung tersebut mati. Hal itu menjadikan anak tersebut bersedih dan menangis. Pada saat itu Rasulullah SAW melewati dirinya maka beliau berkata kepada anak tesebut untuk menghibur dan bermain dengannya, “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan oleh anak burung pipit itu?” (Al-Bukhari VII/109).

Allah berkehendak untuk menguji keduanya dengan seorang anak yang keletah dan dicintai. Suatu ketika Abu Umair sakit sehingga kedua orang tuanya disibukkan olehnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi ayahya apabila kembali dari pasar, pertama kali yang dia kerjakan setelah mengucapkan salam adalah bertanya tentang kesehatan anaknya, dan beliau belum merasa tenang sebelum melihat anaknya.

Suatu ketika Abu Thalhah keluar ke masjid dan bersamaan dengan itu anaknya meninggal. Maka Ibu mukminah yang sabar ini menghadapi musibah tersebut dengan jiwa yang redha dan baik. Sang ibu membaringkannya di tempat tidur sambil senantiasa mengulangi, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Beliau berpesan kepada anggota keluarganya, “Janganlah kalian menceritakan kepada Abu Thalhah hingga aku sendiri yang menceritakan kepadanya.”

Ketika Abu Thalhah kembali, Ummu Sulaim mengusap air mata kasih sayangnya, kemudian dengan semangat menyambut suaminya dan menjawab seperti biasanya, “Apa yang dilakukan oleh anakku?” Beliau menjawab, “Dia dalam keadaan tenang.”

Abu Thalhah mengira bahawa anaknya sudah dalam keadaan sehat, sehingga Abu Thalhah bergembira dengan ketenangan dan kesehatannya, dan dia tidak mahu mendekat kerana khuwatir mengganggu ketenangannya. Kemudian Ummu Sulaim mendekati beliau dan mempersiapkan makan malam baginya, lalu beliau makan dan minum, sementara Ummu Sulaim bersolek dengan dandanan yang lebih cantik daripada hari-hari sebelumnya, beliau mengenakan baju yang paling bagus, berdandan dan memakai wangi-wangian, kemudian keduanya pun berbuat sebagaimana layaknya suami isteri.

Tatkala Ummu Sulaim melihat bahawa suaminya sudah kenyang dan telah mencampurinya serta merasa tenang terhadap keadaan anaknya, maka beliau memuji Allah kerana beliau tidak membuat risau suaminya dan beliau biarkan suaminya terlelap dalam tidurnya.

Tatkala di akhir malam beliau berkata kepada suaminya, “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu seandainya ada suatu kaum menitipkan barangnya kepada suatu keluarga kemudian suatu ketika mereka mengambil titipan tersebut, maka bolehkah bagi keluarga tersebut menolaknya?” Abu Thalhah menjawab, “Tentu saja tidak boleh.” Kemudian Ummu Sulim berkata lagi, “Bagaimana pendapatmu jika keluarga tersebut berkeberatan tatkala titipannya diambil setelah dia sudah dapat memanfaatkannya?” Abu Thalhah berkata, “Bererti mereka tidak adil.” Ummu Sulaim berkata, “Sesungguhnya anakmu adalah titipan dari Allah dan Allah telah mengambil, maka tabahkanlah hatimu dengan meninggalnya anakmu.”

Abu Thalhah tidak kuasa menahan amarahnya, maka beliau berkata dengan marah, “Kau biarkan aku dalam keadaan seperti ini baru kamu khabari tentang anakku?”

Beliau mengulangi kata-kata tersebut hingga beliau mengucapkan kalimat istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) lalu bertahmid kepada Allah sehingga beransur-ansur jiwanya menjadi tenang.

Keesokan harinya beliau pergi menghadap Rasullah SAW dan mengkhabarkan kepadanya tentang apa yang telah terjadi, kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua.”

Mulai hari itulah Ummu Sulaim mengandung seorang anak yang akhirnya diberi nama Abdullah. Tatkala Ummu Sulaim melahirkan, beliau utus Anas bin Malik untuk membawanya kepada Rasulullah SAW, selanjutnya Anas berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ummu Sulaim telah melahirkan malam tadi.” Maka Rasulullah SAW mengunyah kurma dan mentahnik bayi tersebut (yakni menggosokkan kurma yang telah dikunyah ke langit-langit mulut si bayi). Anas berkata, “Berikanlah nama bayi ya Rasulullah!” beliau bersabda, “Namanya Abdullah.”
Ubadah, salah seorang rijal sanad berkata, “Aku melihat dia memiliki tujuh orang anak yang kesemuanya hafal Al-Quran.”

Di antara kejadian yang mengesankan pada diri wanita yang utama dan juga suaminya yang mukmin adalah bahawa Allah menurunkan ayat tentang mereka berdua yang manusia dapat beribadah dengan membacanya. Abu Hurairah r.a. berkata, “Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Sesungguhnya aku dalam keadaan lapar.” Maka Rasulullah SAW menanyakan kepada salah satu isterinya tentang makanan yang ada di rumahnya, namun beiau menjawab, “Demi yang mengutusmu dengan haq, aku tidak memiliki apa-apa kecuali hanya air, kemudian beliau bertanya kepada isteri yang lain, namun jawapannya sama. Seluruhnya menjawab dengan jawapan yang sama. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Siapakah yang akan menjamu tamu ini, semoga Allah merahmatinya.” Maka berdirilah seorang Anshar yang namanya Abu Thalhah seraya berkata, “Saya, ya Rasulullah.” Maka dia pergi bersama tamu tadi menuju rumahnya kemudian sahabat Anshar tersebut bertanya kepada istrinya (Ummu Sulaim), “Apakah kamu memiliki makanan?” Isterinya menjawab, “Tidak punya melainkan makanan untuk anak-anak.” Abu Thalhah berkata, “Berikanlah minuman kepada mereka dan tidurkanlah mereka. Nanti apabila tamu saya masuk, maka akan saya perlihatkan bahawa saya ikut makan, apabila makanan sudah berada di tangan, maka berdirilah dan matikanlah lampu.” Hal itu dilakukan oleh Ummu Sulaim. Mereka duduk-duduk dan tamu makan hidangan tersebut, sementara kedua isteri tersebut bermalam dalam keadaan tidak makan. Keesokan harinya keduanya datang kepada Rasulullah SAW lalu Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh Allah takjub (atau tertawa) terhadap fulan dan fulanah.”

Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda, “Sungguh Allah takjub terhadap apa yang kalian berdua lakukan terhadap tamu kalian.”

Di akhir hadis disebutkan, maka turunlah ayat: “Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Surah al-Hasyr [59], ayat 9)

Abu Thalhah tak kuasa menahan rasa gembiranya, maka beliau bersegera memberikan khabar gembira itu kepada isterinya sehingga sejuklah pandangan matanya kerana Allah menurunkan ayat tentang mereka dalam al-Quran yang senantiasa dibaca. Selain berdakwah di lingkungannya, Ummu Sulaim juga turut adil dalam berjihad bersama pasukan kaum muslimin.

Anas berkata, “Rasulullah SAW berperang bersama Ummu Sulaim dan para wanita dari kalangan Anshar, apabila berperang, para wanita tersebut memberikan minum kepada mujahidin dan mengobati yang luka.”

Begitulah, Ummu Sulaim memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Rasulullah SAW, beliau tidak pernah masuk rumah selain rumah Ummu Sulaim, bahkan Rasulullah telah memberi khabar gembira kepadanya bahawa beliau termasuk ahli jannah.

Capaian entry berkaitan :

  1. Ummu Sulaim menanti keislaman Abu Talhah
  2. Pemilik mahar paling indah

Sumber : ahlulhadist dan asri26

0 KOMEN:

Catat Ulasan

Kongsikan komen anda di sini...

Related Posts with Thumbnails